Selamat Datang di SUARA.LAMIN.com

Situs ini berisi koleksi NSP yang kami kelola, meliputi Band Indie, Penyanyi, Suara Kreatif, dll.

ISI GUESTBOOK | GUESTBOOK

Date Post : 2010 - 07 - 23 | 03 :38 pm
Nama : aglie ghazali
Pesan : met siang salam kenal dari saya anak banjarmasin skrng lg tinggal di Bekasi. saya mau tanya kalo dijkrt ada ga alamat or lainnya yg bisa dihubungi ?. kami punya album dangdut yg ingin jg dijadikan RBT.terima kasih. aglie ghazali.

Date Post : 2010 - 05 - 21 | 02 :51 pm
Nama : Ipay PAPACHI
Pesan : Berikut adalah sekilas tentang PAPACHI dan sejarah musik grunge: PAPACHI Written by Dian Friday, 07 August 2009 Tnjukkan Kualitas Musik Setajam Beling GRUP band lokal di Kaltim, tampaknya semakin marak dan berkembang. Melalui karya-karya yang dimiliki, mereka mencoba âbersaingâ untuk masuk industri musik di Indonesia. Salah satunya adalah Papachi band... Papachi merupakan band lokal yang berasal dari Samarinda. Mereka terbentuk tanggal 6 Agustus 1999. Aliran yang mereka usung adalah Alternative Grunge. Ketika awal terbentuk, nama grup mereka belum bernama Papachi. Tetapi, ganti-ganti gitu deh! Yaitu pernah menggunakan nama, Looser, Buser, So Fuckins Grunge. Dan, sekitar bulan Agustus tahun 2000, barulah mereka resmi menggunakan nama Papachi. Kenapa sih, bro, memakai nama Papachi? âNama Papachi itu mempunyai dua makna. Yaitu, kalo dalam bahasa Banjar berarti pecahan kaca atau beling. Nah, beling atau pecahan kaca itu kan tajam. Berharapnya sih musik kami bisa âsetajam belingâ. Artinya bisa menembus telinga para penikmat musik, dalam artian kata menyukai genre musik yang kami mainkan,â cerita Ipay, saat bertandang ke Mabes XpResi Kaltim Post, usai tampil di Balikpapan Fair 2008. Band ini digawangi oleh Ipay (vocal/gitar), Daeng Udhans (bass), dan Ozzy (drum). Loh kok cuma bertiga, yang lain pada kemana? âKami emang cuma bertiga aja. Kalo pada umumnya, grup band ada lima orang atau lebih, kita sih penginnya tampil dengan formasi yang beda aja. Yaitu tiga orang,â ujar ipay, yang juga berperan sebagai sang leader. Keterkaitan formasi Papachi dengan grup band idola personilnya, ternyata juga mempengaruhi. Saat itu, keduanya merupakan penggemar grup band Nirvana. Saking nge-fansnya dengan kedua band tersebut, mereka mengikuti style yang ada pada Nirvana. âNirvana kan personilnya juga cuma tiga orang. Pokoknya, semua yang ada di grup band kami, terinspirasi dari grup band Nirvana,â ujar Ipay. Lha, emang kenapa harus Nirvana yang menjadi inspirasi kalian? âKarena dari segi musik, kami juga sama-sama mengusung musik, yang dibawakan oleh Nirvana. Selain itu, kebetulan kami mempunyai prinsip hidup yang sama. Yaitu, kalo kata kurt cobain, hidup itu bagai cahaya lilin dan menganggap angin adalah takdir diri kita. Diri kita bisa hidup atau mati, mau kaya atau miskin, mau bahagia atau sedih, tergantung dari âanginâ atau takdir yang kita miliki. Nah sama saya sama seperti itu! Memang takdir semua manusia sudah digariskan. Tapi takdir nggak akan berubah, kalo manusianya nggak pernah berubah atau berusaha untuk lebih baik,â cerita cowok yang ngefans banget sama Kurt Cobain dan Jim Marrisons ini. Malang melintang di kancah musik lokal Samarinda selama tujuh tahun, Papachi berhasil menelurkan demo album. Album pertama mereka berformat live recording di studio Putram, ber-tittle My First Inspiration 1. Di album pertama ini, berisikan tujuh lagu, yaitu, People Smile, Fucken Lady, Perbedaan, Jangan (terjadi perang), Kucingku (dengar), Loser, dan Break thru, yang diciptakan oleh Ipay. Jika grup band lain, kebanyakan bercerita tentang cinta, Papachi berbeda. Lagu-lagi mereka justur lebih cenderung tentang permasalahan hidup sehari-hari. âSoalnya, kalau tentang cinta itu lebih bicarain ke individu masing-masing aja kali yah? Kalau emang cinta, buat apa diomongin ke publik. Cukup dirasakan sendiri,â tutur Ipay. Selang setahun kemudian, mereka kembali merekam demo album kedua di studio Metronome ber-title My First inspiration II, yang berisi lima lagu. Yaitu, My Song, Burning Love, Drug User, Unknown, Borneoku. Karya mereka nggak hanya sampai situ aja. Baru-baru ini mereka sudah melepaskan album indie yang dipasarkan tiga kota di kaltim Samarinda, Tenggarong, dan Balikpapan album ini diberi judul âA Beautiful Day For Dieâ yang berisi sembilan lagu, antara lain Tirani, Burning Love, dan Life is Like Candle Light. Dalam penggarapan materi lagu di album ini, dikerjakan di studio yang berbeda. Yaitu di Channel Studio, EB Record, dan Pedee Production. Awal bulan April ini, rencananya mereka akan kembali merilis mini album yang ke-II. âRencananya sih album ini itu berjudul âThe (PAPACHI) âsmeâ yang berisikan lima lagu. Insya Allah akan dirilis awal April ini. Untuk penjualan, akan kami jual di kota Samarinda, Tenggarong, Balikpapan, dan juga di Bandung dan Tangerang. Penjualannya, kami distribusikan melalui distro-distro tertentu,â kata Ipay. Wah..kalo gitu, kita tunggu aja deh album mini Papachi selanjutnya. (one) SUMBER KORAN HARIAN KALTIM POST. Pengalaman musik / prestasi : - Tenggarong Brisik (metal, punk, and grunge gigs) - pro2 fm, kpfm, mitra fm, TVRI kaltim (Samarinda)(manggung) - kpfm, ultah kota balikpapan yang ke 111 (manggung) - masuk chart indie di radio KPFM Samarinda peringkat 2 (lagu fucken ladies) - dan beberapa panggung pensi dan meinstream stage di kota Samarinda dan balikpapan Diskografi : Album ke-1 indie lokal kalimantan timur Judul:a beautiful day for die Tahun:2006 album ke 2 indie lokal Kalimantan timur judul: the(PAPACHI)âsme Thaun : 2007 Infulence musik : Nirvana 100% Visi dan Misi : Ingin memajukan scene grunge dikaltim agar orang tau kalo musik grunge tidak semata musik tersisihkan dan minoritas tapi grunge adalah jiwa atau spirit yang muncul dari sebuah pemikiran akan ketidakpuasan akan aturan atau sesuatu yang sifatnya menjajah baik itu pendapat, karya, dan idealisme..grunge bukanlah pilihan hidup yang lahir dari sebuah trend. PAPACHI are : Ipay coburn : gitar/vokal Udhans : bass Uphixâs : drums Nama kontak : ipay / triple M Alamat : Jl. Lambung mangkurat gg. arsyad no. 59, samarinda, kalimantan timur Telepon : 08125530967 Email : mbayhaqi@tnc.orgThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it Homepage : http://www.youtube.com/papachi01 PESAN : GRUNGE BUKANLAH SEBUAH TREND ATAU LIFSTYLE TAPI GRUNGE ADALAH SEBUAH PEMIKIRAN YANG LAHIR DARI KAUM MINORITAS DAN TERSISIHKAN YANG MUAK AKAN SEBUAH ATURAN DIMANA HANYA ADA PEMERKOSAN DAN INTERVENSI TERHADAP HAK HAK KAUM MINORITAS DAN TERSISIHKAN BAIK HAK DALAM BERKARYA, PENDAPAT, DAN KESETARAAN SOSIAL, SUNGGUH GRUNGE ADALAH SEBUAH IDEOLOGI DALAM BERMUSIK ATAU BERPIKIR. Sejarah Musik Grunge:(oleh Ipay PAPACHI) >>ARTI KATA GRUNGE Diskusi ini diawali dengan pertanyaan, apakah arti Grunge ? Arti kata Grunge itu sendiri sudah aku cari dalam kamus Bahasa Inggris, Bahasa Perancis dan juga Bahasa Jerman yang masing-masing katanya adalah kamus paling lengkap, tetapi nggak ada penjelasan tentang kata tersebut. Bahkan dalam kamus bahasa "slang" Amerika terbitan Gramedia hanya ada dua kata yang mirip Grunge. Yaitu Grungt yang artinya muak dan Grung yang artinya muram. Sedangkan salah satu responden diskusi menambahkan ada satu kata lagi yang mirip yaitu Grunchy yang artinya jorok.(Arti kata Grunge itu sendiri mungkin ada diantara kalian yang lebih tahu? aku mohon dengan amat sangat untuk saling bertukar informasi). >>SEJARAH MUSIK GRUNGE (Versi 1) Musik Grunge diawali trend pemunculannya pada awal tahun '80an walau telah ada sebuah band yang memainkan musik Grunge yang telah muncul pada tahun '60an yaitu Crosby, Still, Nash dan Young (Literatur:sejarah Musik Dunia, Gramedia). Bahkan group band ini sempat memeriahkan WoodStock'69(bagi yang ingin dengerin penampilannya silahkan kirim kaset kosongnya biar nanti aku copykan). Disini mereka menyumbangkan 3 tembang Grunge dalam versi unplugged. Kemudian grup musik ini bubar karena kalah dengan trend Punk pada tahun '70an. Hanya tinggal Neil Young yang tetap bisa beradaptasi dan bertahan sehingga membuatnya dijuluki "The Goodfather Of Grunge". (sumber:Majalah Hai edisi WoodStock) >>SEJARAH MUSIK GRUNGE (Versi 2) Dalam salah satu konsernya Jimmy Hendrik beratraksi dengan gitarnya menuangi cat dengan berteriak "Grunge!" maka jadilah sebuah aliran musik yang bernama Grunge(ha..ha..haaa did you ever believe that bullshit!). Okelah mungkin memang benar Jimmy Hendrik mengucapkan kata Grunge, tetapi apa hanya karena itu sejarah musik Grunge tercipta dimuka bumi ini ? Of Course Not!. Sejarah suatu aliran musik tentulah melewati suatu fase-fase yang panjang, salah satunya adalah gaya hidup. >>GAYA HIDUP GRUNGE Suatu musik pastilah terpengaruh oleh gaya hidup yang dianut, contohnya dalam kehidupan kita sehari-hari. Begitu pula Musik Grunge sangat dipengaruhi oleh gaya hidup NgeGrunge. Lalu kalian pingin tahu gaya hidup Grunge yang sebenarnya? Bener kalian pingin tahu? Kalian sudah siap sakit hati? Okelah kalau kalian sudah siap untuk sakit hati. Gaya hidup Grunge yang sebenarnya adalah Sampah!.. It's True!. Bahwa gaya hidup Grunge yang asli dari sononya memang adalah gaya hidup yang erat kaitannya dengan sampah. Mereka makan sehari-harinya dari sampah yang dipungut dan dari koin recehan yang dilempar orang,hidup dari tunjangan sosial pemerintah, tidur mabuk di trotoar atau di bangku-bangku taman, sekali-kali ngompas dan melakukan tindak kriminal dan banyak hal lain yang kurang pantas untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah mengapa para musisi pengusung musik Grunge menolak dengan tegas apabila mereka dijuluki musisi Grunge! Mereka antara lain : Sound Garden dan Alice in Chains. Mereka lebih bangga disebut musisi Hard Rock (pernah lihat album mereka dalam HardRock Compilations#1). SilverChair dan Pearl Jam lebih bangga jika disebut musisi Alternatif/modern Rock. Hal ini dibuktikan pendapat dari Daniel John(SilverChair) yang mengatakan dirinya sangat menyukai musik Grunge tetapi menolak dengan keras jika disebut musisi Grunge. Dia menolak karena mereka mempunyai fasilitas, mereka kuliah,hidup layak dan kemana-mana naik mobil. Dan yang ini mungkin paling menyakitkan sorry guys...Sad But True! Nirvana dan Kurt Cobain juga menolak disebut musisi Grunge. Cobain sendiri lebih senang disebut Punkers, karena mereka lebih bisa berfikir dan menyelami jiwa masihng-masing, bukan hanya karena lagunya enak lantas mereka menari dalam berbagai istilah (pogo,moshing,ect..) tetapi nggak tahu apa yang mereka inginkan disampaikan dari lagu tersebut. Cobain sangat membenci ulah anak-anak Grunge yang sedemikian apatis dan egois (ingat lyric In Bloom? Lets check the Lyric!). Kalian pernah melihat t-shirt "Grunge is Dead " ? kalo kepengen lihat bisa sekalian aku copykan. Cobain sendiri sebenarnya pingin membentuk Nirvana band Punk (do you remember ?). Ini dibuktikan bahwa dengan pendapat Christ Novoselic yang menjelaskan bahwa Cobain sebenarnya menginginkan Nirvana menjadi sebuah band Punk bernuansa seperti Sex Pistols tetapi karena ia kekurangan referensi maka jadilah Nirvana menjadi sebuah band Punk yang aneh!(oh..well) Tetapi band-band tadi sependapat dalam satu hal bahwa Grunge bukanlah gaya hidup yang mereka anut walaupun mereka memainkan musik Grunge, tetapi lebih pada unsur bahwa Grunge is Soul yang mencerminkan tentang kejiwaan yang redup, bercerita tentang sisi lain dari dunia yang orang lain menganggapnya sinting dan lebih pada sifat koreksi pada diri sendiri(gimana kalian setuju nggak dengan yang satu ini?). Di Amerika sendiri kaum Grunge berbaur dalam kehidupannya sehari-hari dengan kaum Punk dan ketika ditanya kenapa nggak sekalian masuk ke musik Punk? Mereka menjawab bahwa itu adalah masalah selera, tidak semua orang menyukai hamburger, ada juga yang suka steak atau hot dog(masuk akal juga). Lalu bagaimana ciri dari musik Grunge yang mereka sukai itu? Seorang Punk Traveller yang baru saja berkunjung dari Seattle memberikan sedikit penjelasan padaku mengenai musik kaum Grunge disana. Disana mereka berkumpul dalam setiap sudut sepanjang trotoar sambil memainkan instrument musik, berteriak-teriak nggak keruan tetapi dalam konteks musik tersebut dan menganggap bahwa musik tersebut adalah penyampaian dari isi hati mereka(mirip dengan musik soul tetapi yang ini lebih nggak keruan). >>PERKEMBANGAN MUSIK GRUNGE Bagaimana perkembangan musik Grunge di daerah asalnya sana? Jawabannya adalah: menurun drastis! Bahkan sekarang disana muncul lagi dengan trend baru dari musisi pengusung / yang memainkan musik Grunge(tahu khan bedanya musisi Grunge dengan musisi pengusung Grunge?). Trend baru ini disebut Seattle Sounds Coopment yaitu pengembangan dan pencampuran antara musik Grunge dengan musik Seattle Sound(lain waktu mungkin akan aku ulas mengenai seattle sound berdasarkan data yang aku peroleh). Para pengusung Seattle Sounds Coopment ini antara lain: Creed dan juga dapat dilihat dari album terbaru Bush dan Pearl Jam, sedangkan SilverChair dengan kecerdasannya dalam bermusik telah berhasil menggabungkan antara Grunge, Seattle Sound dengan musik kontemporer dan Modern(industrial). Mereka menyebutnya "Musik of Future"(well down). Yang paling mengesankan justru perkembangan musik Grunge di Australia, oh ya di Australia kaum Grunge berbaur dengan penduduk asli sana yaitu kaum Aborigin. Mereka bersatu dan bekerja sama karena musuh utama mereka adalah kaum BONE HEAD. Dan hal ini sama sekali tidak membuat pemerintah untuk membuka matanya menyelamatkan suku Aborogin walau pernah perkampungan mereka dibakar habis!(kalau mengenai ini aku dengar dari wartawan Australia yang kemarin nongkrong di kampus dan bicara omong kosong selama lebih dari dua jam). Kembali ke topik pembicaraan semula! Perkembangan Musik Grunge disana terdongkrak dari kebijaksanaan pemerintah setempat dalam bidang kepariwisatannya. Musik Grunge disana dimasukan dalam agenda pariwisata, dicetak namanya dalam pamflet dan brosur-brosur dan main di Pub-pub elite sekelas dengan musik Jazz dan mempunyai penggemar dan pencinta seni dari kalangan elite pula(sumber: Agenda Pariwisata Australia th'98; perpustakaan Departemen Pariwisata Seni dan Budaya Jawa Timur). KESIMPULAN DARI ARTIKEL INI : Kita menyimpulkan bahwa Grunge adalah Jiwa(Grunge is Soul),bukan gaya hidup yang dianut oleh sebagian besar musisi pengusung musiknya. Kita tahu adanya perbedaan antara musisi Grunge dengan musisi pengusung Grunge(kalian termasuk yang mana?). Aktif berfikir dan berorganisasi yang positif sehingga menjadikan musik Grunge sebagai musik pergerakan, musik yang meneriakkan kemuakan kita terhadap apa saja yang kita anggap perlu untuk diubah. Dalam hal ini kita tidak boleh kalah dengan Punk/Hardcore yang telah melaju meninggalkan kita. Sekali lagi mari kita tinggalkan jiwa apatis dan egois yang kita adaptasi dari kaum Grunge. Dalam hal aktif berorganisasi positif ini banyak dari musisi pengusung Grunge dan Seattle Sound yang dapat kita teladani. Mereka antara lain : 1. Christ Novoselic(Sweet'75), Aktif mengurusi dan menggalang dana bagi organisasi yang peduli dengan kaum pengungsi korban perang. 2. Dave Grohl(Foo Fighter) dan Sonic Youth, bersama mereka aktif menggalang dana dengan mengadakan konser-konser amal keliling kampus demi kemerdekaan Tibet(Concert of Tibetan Freedom). 3. SilverChair, aktif dalam kampanye perlindungan terhadap hewan, menentang perburuan hewan liar dan percobaan kimia terhadap hewan(Animal Liberation Organization). 4. SilverChair dan Pearl Jam, aktif dalam organisasi menjaga kelestarian laut(check compilations Album: Music for Our Motheroceans). 5. Bush, aktif dalam organisasi semi politik melawan segala bentuk rasisme(Artist Against Racism). Kesimpulan terakhir dari Newsletter ini adalah : segera tinggalkan sikap eksklusivisme!! mulailah belajar untuk bergaul dan berbaur tanpa merasa yang satu lebih tinggi dari yang lainnya dan menganggap bahwa musik adalah bahasa pemersatu. Kalian ingatkan bahwa di Amerika kaum Grunge berbaur dengan Punk dan di Australia mereka berbaur dengan suku Aborigin. Nah ! mereka yang sehari-hari otaknya dicekoki oleh alkohol saja bisa bergitu kenapa kita tidak ?

Date Post : 2010 - 05 - 21 | 02 :41 pm
Nama : Ipay PAPACHI
Pesan : bagi penikmat musik alternative atau grunge 90 an, aktifkan NSP PAPACHI ya..........viva grunge di kalimantan timur sukses buat perjuangan musik kaltim khusus para scene yang ada di kaltim seperti PEOPLE SMILE GRUNGE COMMUNITY SAMARINDA, METALFAST, ROCK N ROLL AND MANY MOORE!!!!

Date Post : 2010 - 03 - 03 | 08 :31 pm
Nama : yoyok
Pesan : hayo...el jomblo...bfth....al vocado....jadikan lagu2 kamu duduk di papan atas dong......

Date Post : 2010 - 02 - 18 | 06 :48 am
Nama : expres_CE
Pesan : Dalam industri musik, indie label bukan cerita baru. Setidaknya bagi Amerika. Kita bisa menelusurinya ke paro pertama 1920-an saat industri rekaman didominasi Columbia, Edison, Victor, atau ARC. Kala itu, perusahaan-perusahaan kecil muncul menyeimbangkan keadaan. Paramount, Okeh, Vocalion dan Black Patti, adalah beberapa di antaranya. Sekalipun begitu, perlawanan indie label tak urung membuat banyak raksasa terluka, bahkan sebagian di antaranya tak sanggup lagi bertarung. Edison, misalnya, meninggalkan gelanggang dan berkonsentrasi pada radio. Belum lagi Columbia yang diambil CBS, atau Victor yang dikuasai raksasa baru RCA. Untuk dua dasawarsa ke depan, terjadi transfer situasi yang menyisakan peluang bagi siapa pun untuk bermain. Baru pada paro kedua tahun 1940-an, peluang itu kembali menciut seiring kembalinya dominasi para raksasa. Sdikitnya ada enam raksasa yang saat itu memainkan perannya secara signifikan. Mereka adalah Columbia, Victor, Decca, Capitol, MGM dan Mercury. Di Indonesia, trend âpemberontakanâ itu sebenarnya cukup lama digaungkan. âDi Indonesia. Trend indie dibuka oleh PAS Band,â kata David Tandayu dari KripikPeudeus (KP) yang ditemui RILEKS.com di salah satu resto kecil di Jakarta. Sejenak kembali ke belakang, PAS Band PAS tahun 1993 menorehkan sejarah sebagai band Indonesia yang pertama kali merilis album secara independen. Mini album mereka yang bertitel "Four Through The S.A.P" ludes terjual 5000 kaset dalam waktu yang cukup singkat. Mastermind yang melahirkan ide merilis album PAS secara independen tersebut adalah (alm) Samuel Marudut. Ia adalah Music Director Radio GMR, sebuah stasiun radio rock pertama di Indonesia yang kerap memutar demo-demo rekaman band-band rock amatir asal Bandung, Jakarta dan sekitarnya. Kekuatan indie dalam kacamata David, sebenarnya lebih berkaca pada âramalanâ John Nasbitt dalam bukunya Global Paradoks. âDalam tulisannya, Naisbitt mengatakan kalau perusahaan-perusahaan besar kelak akan digerogoti oleh perusahaan-perusahaan kecil. Kalau mereka ingin selamat, harus merangkul perusahaan kecil itu,â jelas David yang juga seorang asisten dosen di sebuah perguruan tinggi swasta terkemuka. Dalam komunitas indie di Indonesia, Kripik Peudeus termasuk sudah merasakan asam garam pergerakan musikalitasnya. ââTapi kami melihat indie sekarang secara sistem makin rapi,â imbih David yang kerap ditulis dengan Day-Vee, vokalis dalam kelompoknya. David yang sebelumnya lama berkiblat ke scene hip-hop melihat perkembangan indie label cukup pesat perkembangannya. âSebenarnya perkembangan masing-masing scene musik itu berbeda-beda,â timpalnya. Hiphop misalnya. Menurut David, hiphop harus berterimakasih kepada Iwa K, sebagai pembaru hiphop di Indonesia. âDengar-dengar malah akan ada Tribute to Iwa K,â ucapnya serius. Dalam kacamata David, yang skripsinya pun bicara soal musik hiphop (âMeyakinkan dosen untuk setuju, sudah perlu perjuangan berat. Padahal musik lain langsungdi-accâ), Hiphop jangan pernah memasang jarak dengan genre musik lain. âMenurut saya sih, perlu ada daerah abu-abu yang tidak dibatasi oleh apapun,â ucap cowok yang mulai bertubuh tambun ini kalem. âIntinya, hiphop jangan pernah membuat pembatasan,â tandasnya. Sebenarnya, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang ada, termasuk perbedaan idelogi dengan genre lain, membuka diri dengan komunitas lain, menurut David, justru bisa memberi masukan yang berharga untuk komunitas hip-hop itu sendiri. Dalam sejarahnya di Indonesia, hiphop mulai berkembang tahun 80-an ketika era breakdance menjamur juga. âDulu hiphop itu identik dengan gangster, psitol, kekerasan dan drugs,â terangnya lagi. Tapi kemudian ketika Tupac Shakur ditembak mati, menurut David, secara pelan-pelan itu menjadi era "the end of the gangster.â Kekuatan indie label menurut david adalah karena kemampuannya membuat opini yangtidak mainstream. âBayangkan, mereka membuat zine sendiri, menulis apapun termasuk yang provokatif tentang band mereka. Dan itu mereka lakukan terus menerus supaya orang lain tertular virus mereka," jelas David. Menurut David, komunitas hiphop itu besar. Dalam spirit yang sama, seorang Wendi, memilih disebut Wenz Rawk, mengatakan hal yang senada dengan David. Wenz yang lebih benyak berkiprah di area metal underground, punya pandangan yang tidak jauh berbeda dengan David. âPersoalan penggunaan istilah indie dan underground saja, sudah terjadi perdebatanpanjang,â terang cowok yang kini memlih menjadi manajer band `riots` disco The Upstairs. Menurutnya, Yang menarik sekarang adalah dominasi penggunaan idiom `indie` dan bukan underground untuk mendefinisikan sebuah scene musik non- mainstream lokal. Sempat terjadi polemik dan perdebatan klasik mengenai istilah `indie atau underground` ini di tanah air. Sebagian orang memandang istilah `underground` semakin bisa karena kenyataannya kian hari semakin banyak band-band underground yang `sell-out`, entah itu dikontrak major label, mengubah style musik demi kepentingan bisnis atau laris manis menjual album hingga puluhan ribu keping. Sementara sebagian lagi lebih senang menggunakan idiom indie karena lebih `elastis` dan misalnya, lebih friendly bagi band-band yang memang tidak memainkan style musik ekstrem. Walaupun terkesan lebih kompromis, istilah indie ini belakangan juga semakin sering digunakan oleh media massa nasional, jauh meninggalkan istilah ortodoks `underground` itu tadi. Menyimak sejarah indie di Indonesia, kita akan dibawah sejarah panjang perjuangan meletakkan tataran eksis band-band metal yang sudah malang melinag di scene underground Indonesia. Mengutip sejarah yang Wenz tuturkan, Embrio kelahiran scene musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70-an sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy (Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Trencem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka inilah generasi pertama rocker Indonesia. Istilah underground sendiri sebenarnya sudah digunakan Majalah Aktuil sejak awal era 70-an. âIstilah tersebut digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar` dan `ekstrem` untuk ukuran jamannya,â jelas cowok berkacamata yang juga editor di salah satu majalah musik terkemuka ini. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan band-band tersebut di atas bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik band-band luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP. Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah hanya sedikit saja album rekaman yang terlahir dari band-band rock generasi 70-an ini. âJakarta dan Bandung masih merupakan sentra dari pergerakan rock underground,â terang Wenz. Sempat dijuluki sebagai barometer rock underground di Indonesia, Bandung memang merupakan kota yang menawarkan sejuta gagasan-gagasan cerdas bagi kemajuan scene nasional. Booming distro yang melanda seluruh Indonesia saat ini juga dipelopori oleh kota ini. Keberhasilan menjual album indie hingga puluhan ribu keping yang dialami band Mocca juga berawal dari kota ini. Bahkan Burger Kill, band hardcore Indonesia yang pertama kali teken kontrak dengan major label, Sony Music Indonesia, juga dibesarkan di kota ini. PUNK Punk sebagai jenis musik, masuk ke tanah air pada tahun 1980-an, bersamaan dengan kegandrungan anak-anak muda pada grup band politis asal Inggris, Sex Pistol. Awal tahun 1990-an, beberapa anak muda di Bandung kemudian mencoba mengartikulasi budaya impor itu dengan berdandan punk: rambut berdiri (mohawk) yang dilengkapi berbagai asesoris khasnya. Agak unik ngobrol dengan komunitas ini. Mereka punya sikap tegas dan berani berbeda secara prinsip. âMenurut gue, punk itu mengembalikan kontrol atas diri loe sendiri. Do it Yourself dan anti kemapanan,â terang Ika, yang juga kerap disebut Peniti Pink, salah satu anggota komunitas punk di Jakarta. Dalam kacamata Ika, punk lebih kepada persoalan melawan, bukan memberontak. âKami melawan ketidakadilan, melawan dari tekanan, bukan memberontak tapi melawan. Anti kemapanan dalam arti menolak segala sesuatu yang sudah jadi status quo,â tegas cewek yang dikontak via email itu. Sebagai seorang perempuan, Ika tidak merasakan adanya perbedaan perlakuaan antara punkers cewek dan cowok. âDalam skala besar, keterwakilan punker cewek memang tidak sebesar yang cowok. Tapi sekarang sudah lumayan menonjol dan punya pengaruh juga,â tambah Ika. Menurut Ika yang kerap menulis soal punk dan perempuan, punk mampu melihat perempuan dengan lebih adil dan fair dibanding mainstream. Soal tudingan komunitas punk banyak mengumbar kata-kata provokatif, Ika menolaknya. âTidak juga. Organ-organ politik dan agama di Indonesia, kayaknya malah lebih provokatif deh,â kilahnya. Tapi Ika tidak menolak jika punk juga menjadi bagian dari gaya hidup. âPunk juga bisa jadi fesyen, musik, atau apapun yang gue rasa punk bisa masuk ke dalamnya,â tandasnya Ika lagi. Tapi percaya atau tidak, Ika mengaku tidak berharap apa-apa dari scene punk di Indonesia. âTidak ada yang gue harapkan,â tegasnya. Perkembangan scene punk --komunitas, gerakan, musik, fanzine, dan lainnya-- paling optimal adalah di Bandung, disusul Malang, Yogyakarta, Jabotabek, Semarang, Surabaya, dan Bali. Parameternya adalah kuantitas dan kualitas aktivitas: bermusik, pembuatan fanzine (publikasi internal), movement (gerakan), distro kolektif, hingga pembuatan situs. Meski demikian, secara keseluruhan, punk di Indonesia termasuk marak. Profane Existence, sebuah fanzine asal Amerika menulis negara dengan perkembangan punk yang menempati peringkat teratas di muka Bumi adalah Indonesia dan Bulgaria. Bahwa `Himsa`, band punk asal Amerika sampai dibuat berdecak kagum menyaksikan antusiasme konser punk di Bandung. Di Inggris dan Amerika --dua negara yang disebut sebagai asal wabah punk, konser punk hanya dihadiri tak lebih seratus orang. Sedangkan di sini, konser punk bisa dihadiri ribuan orang. Mereka kadang reaktif terhadap publikasi pers karena khawatir diekploitasi. Pers sebagai industri, mereka anggap merupakan salah satu mesin kapitalis. Mereka memilih publikasi kegiatan, konser, hingga diskusi ide-ide lewat fanzine

 1 2 >